Minggu, 23 November 2025

Saint Mary's Way

 

Dalam proyek Saint Mary’s Way, setiap siswa diajak untuk mewujudkan nilai kasih, kepedulian, dan pelayanan kepada sesama. Melalui kegiatan ini, kami belajar bahwa kasih tidak hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Untuk itu, saya mendapat kesempatan untuk berbagi kasih kepada anak-anak Sekolah Minggu di HKBP. Kegiatan ini menjadi momen berharga bagi saya untuk menunjukkan perhatian, memberikan keceriaan, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada mereka. Dengan berbagi waktu, tenaga, dan cinta, saya berharap dapat menjadi saluran berkat bagi anak-anak tersebut, sesuai dengan semangat pelayanan yang diajarkan oleh Santa Maria.


















Pada hari Minggu pagi itu, aku bersama kelompokku, yaitu Maria dan Debora, datang lebih awal ke gereja untuk mempersiapkan pelayanan Sekolah Minggu. Hari itu terasa agak berbeda karena kami bertiga akan melayani anak-anak secara langsung sesuai dengan tugas yang telah dibagi. Sebelum ibadah dimulai, kami berkumpul sebentar untuk menyelaraskan kembali apa yang harus dilakukan. kami mendapat tugas menyambut anak-anak dan orang tua, membantu persembahan, mengatur slide multimedia, serta memastikan suasana tetap tenang selama ibadah berlangsung.



Ketika anak-anak mulai berdatangan, kami

berdiri di pintu sambil tersenyum. "Selamat pagi! Shalom!" sapa kami kepada setiap anak dan orang tua yang datang. Aku bisa melihat berbagai ekspresi yang memenuhi aula pintu masuk gereja ada anak-anak yang berlari riang karena tidakk sabar ingin memuji Tuhan, ada yang masih malu-malu, dan ada pula yang masih mengantuk tetapi tetap datang. Dari wajah-wajah itu, aku melihat sukacita dan ketulusan yang sederhana namun tulus. Ibadah Sekolah Minggu selalu menjadi tempat mereka bertumbuh dalam suasana penuh cinta dan kehangatan.



Ketika ibadah dimulai, aku membantu bagian persembahan. Anak-anak satu per satu memberikan persembahan mereka. Ada yang memasukkannya dengan penuh percaya diri, ada pula yang ragu-ragu sambil melihat temannya lebih dulu. Aku terharu melihat ketulusan hati mereka dalam memberi. Setelah bagian persembahan selesai, aku kembali ke tempat duduk ku untuk mengatur slide. Saat lagu pujian dinyanyikan, aku mengganti slide sesuai irama. Suara anak-anak yang bernyanyi begitu semangat membuatku tersenyum. Mereka bernyanyi sambil bertepuk tangan, menari, bahkan beberapa benar-benar bernyanyi dengan sepenuh hati.


Saat khotbah berlangsung, aku tetap mengatur slide ayat Alkitab dan materi khotbah agar pendeta dapat menyampaikan firman dengan lancar. Meski tugas terlihat sederhana, aku harus tetap fokus agar tidak tertinggal satu pun bagian. Terkadang hanya butuh senyum, sentuhan ringan di bahu, atau ajakan untuk kembali melihat ke depan. Semua hal kecil itu membantu menjaga ibadah agar tetap kondusif.



Bekerja bersama Maria dan Debora membuat suasana pelayanan terasa jauh lebih ringan. Kami sering saling melempar pandang, memberi isyarat kecil, atau sekadar saling mengingatkan jika ada bagian yang perlu diperhatikan. Komunikasi kami berjalan lancar, dan dari situ aku belajar bahwa pelayanan yang baik lahir dari kerja sama yang kompak.


Setelah ibadah selesai, aku merenungkan pengalaman hari itu dalam terang nilai-nilai spiritualitas Maria. Pertama, aku belajar tentang kerendahan hati. Semua tugas yang kami lakukan bukanlah untuk dipuji atau dilihat orang lain. Yang kami lakukan sering kali tidak tampak, tetapi sangat berpengaruh terhadap kelancaran ibadah. Dari Maria dan Debora, aku belajar bahwa kerendahan hati berarti mengutamakan kasih dan pelayanan, bukan pengakuan.


Kedua, pengalaman ini mengajarkanku tentang kesetiaan. Kesetiaan terlihat dari bagaimana kami bertiga menjaga komitmen untuk datang lebih awal, menjalankan tugas masing-masing, dan saling mendukung. Meskipun lelah dan banyak kesibukan sekolah, kami tetap memberikan waktu terbaik untuk melayani. Kesetiaan seperti inilah yang ditunjukkan oleh Maria ketika ia menjawab panggilan Tuhan tanpa ragu.


Ketiga, pengalaman ini membuatku semakin sadar akan melakukan kehendak Allah. Melalui pelayanan sederhana ini, aku merasakan bagaimana Tuhan memakai kami menjadi alat-Nya untuk menghadirkan sukacita kepada anak-anak. Ayat Maria yang berkata, *“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataan-Mu,”* mengingatkanku bahwa pelayanan adalah bentuk ketaatan dan kesediaan menyerahkan diri untuk dipakai Tuhan.


Dari semua pengalaman itu, aku membuat komitmen pribadi untuk terus bertumbuh dalam pelayanan. Aku ingin tetap konsisten melayani di Sekolah Minggu, menjaga kerja sama dengan Maria dan Debora, serta semakin peka terhadap kebutuhan anak-anak. Aku ingin tetap rendah hati, teliti dalam tugas teknis seperti mengatur slide atau membantu persembahan, dan selalu memandang pelayanan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih, bukan sekadar kewajiban.


Pengalaman hari itu mengajariku bahwa pelayanan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang bagaimana kita melakukannya dengan hati yang tulus, penuh kasih, dan setia seperti teladan Maria. Dengan semangat yang sama, aku berharap dapat terus menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang-orang di sekitarku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar